s y n t h e s i s

words. feelings. random stuff.

Page 2 of 6

Helena (Part 1)


“Long ago, just like the hearse, you die to get in again, we are so far from you…” Vokalis band berbisik ke mikrofon, sebelum gebukan drum dan musik cadas mengawali pentas seni yang digelar SMAN 4 pada malam itu.

Lapangan basket SMA itu disulap menjadi sebuah venue konser, lengkap dengan panggung megah dan dekorasi. Sesuai dengan tema Back To 2000’s yang diusungnya, band sekolah membawakan lagu berjudul Helena dari My Chemical Romance sebagai pembuka pentas seni tersebut. Para penonton bergoyang dan bersorak mengikuti nyanyian sang vokalis. Beberapa penonton mengabadikan penampilan band sekolah itu dengan ponselnya.

Di barisan terdepan kerumunan, seorang perempuan berambut hitam sebahu berjingkrak-jingrak sambil menyanyikan lirik lagu, mengikuti ritme musik. Tanpa sengaja, perempuan itu menginjak sepatu seorang penonton di belakangnya. Terdengar suara mengaduh.

“Maaf!” Perempuan itu berbalik. Di hadapannya, seorang laki-laki berambut merah menyala mendengus kesal. Namun, raut muka lelaki itu berubah setelah ia menatap perempuan yang menginjak sepatunya.

Eye shadow dan eyeliner hitam mewarnai kelopak mata perempuan itu, sementara gincu berwarna dusty peach menyapu permukaan bibirnya. Dengan jaket kulit hitam, kaus oblong hitam, dan rok merah bermotif kotak-kotak hitam, penampilannya sesuai dengan kode busana emo yang ditetapkan pentas tersebut. Kontras dengan lelaki itu, yang hanya mengecat rambutnya agar berpenampilan menarik. Selebihnya, dia hanya mengandalkan seragam putih abu-abu.

“Wow! Kalau gue yang pakai eye shadow, pasti hasilnya udah kayak rakun.”

Perempuan itu tak dapat menahan tawanya. “Rakun doang bisa bikin ngakak, selera humor gue kok jadi begini amat… you don’t look so bad, though.” Ia tersenyum simpul. “Lo suka MCR?”

“Suka, dong,” laki-laki itu menunjukkan gelang bertuliskan My Chemical Romance di pergelangan tangannya. “Sayang mereka udah bubar sebelum gue sempet lihat mereka manggung. Oh iya, nama lo siapa?”

“Helena. Yap, sama kayak judul lagu yang lagi dimainin.”

“Seriusan? Mungkin lo emang ditakdirin jadi fans MCR!” sahut laki-laki itu mengalahkan keriuhan penonton. “Gue Angga, by the way.”

“Kurang satu huruf dari Rangga AADC, dong,” Helena mengalihkan pandangannya ke arah panggung. Terlihat vokalis sedang berlari untuk mengambil botol air mineral, sementara anggota band lainnya tetap memainkan instrumen masing-masing.

“Mau keluar dari sini, gak?” sahut Angga.

“Apaaa?”

Angga mendekati Helena agar suaranya lebih terdengar. “Mau keluar, gak? Telinga gue sakit kalo kelamaan berdiri dekat speaker!

Helena menatap lelaki yang lebih tinggi 20 sentimeter darinya itu. “Kalau lo mau berduaan, bilang aja dari tadi!”

Angga tertawa. “Oke, oke, you got me. Gudang bawah tangga, gimana?”

Helena tertegun sejenak, tangannya menyentuh dagu. “Boleh, semoga aja pintunya gak kekunci.”

“Lebih bagus lagi, semoga kuncinya ketinggalan di pintu.”

Ketika vokalis menyanyikan bagian chorus, Angga menyeret Helena keluar dari barisan kerumunan. Setelah bebas dari kerumunan, keduanya berlari menuju gudang di bawah tangga yang dimaksud.

Sesampainya di sana, rupanya permohonan Angga terkabul. Petugas kebersihan lupa untuk mencabut kunci dari lubangnya di pintu gudang.

Seulas senyum merekah di bibir Angga. “Kita beruntung hari ini,” dia memutar kunci, lalu membuka pintu gudang dan melangkah mundur. “Perempuan duluan.”

 

#Challenge30HariSAPE_Hari9

Ulang Tahun


Happy birthday to you… makan kue bolu… malam Minggu mati lampu, kasihan deh elu! Hehehe…” Aku bertepuk tangan diiringi tawa, mengakhiri lantunan parodi lagu Happy Birthday karyaku.

Aku membuka penutup boks berwarna merah di depanku. Di dalam boks tersebut, terdapat kue tart berbentuk bulat rasa red velvet. Lapisan merah batanya direkatkan oleh krim keju, dilengkapi topping parutan keju yang menghiasi permukaannya, serta dipercantik oleh seiris coklat putih bertuliskan Happy Birthday! dengan krim berwarna merah. Hanya lilin yang absen dari penampilan kue itu.

Red velvet, favoritmu.” Aku mengeluarkan kue tart dari boks. “Ya ampun, aku lupa pasang lilin… Sebentar, ya!”

Aku merogoh tasku, mencari-cari sebungkus lilin yang aku beli di toko kelontong tadi. Tak butuh waktu lama bagiku untuk menemukan bungkusan plastik berisi lilin-lilin kecil aneka warna itu.

“Ketemu!” ujarku sembari meraih bungkusan lilin tersebut. “Maafin aku yang pelupa ini, dong.”

Aku mengeluarkan empat batang lilin berwarna-warni, lalu menyusunnya di atas permukaan kue dalam formasi segi empat. Puas melengkapi penampilan kue, aku mengambil pemantik api dari saku jaketku.

“Tadi itu aku hampir gak kebagian pesanan kue,” ucapku sambil menyalakan salah satu lilin, sebelum berpindah ke lilin lainnya. “Untung aku antre lebih awal, kalau telat sedikit saja… mau gak mau, hari ini kita ngerayain ulang tahunmu pakai roti tawar,” aku tersenyum geli, membayangkan skenario di mana aku dan kekasihku berlomba meniup lilin di atas sepotong roti tawar.

Setelah keempat lilin menyala terang, aku memasukkan kembali pemantik api ke saku jaketku. “Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga…”

Angin berhembus kencang ke arahku, memadamkan api lilin-lilin itu.

“Sekarang juga…” suaraku memelan, begitu pula dengan tepukan tanganku.

“Sekarang… juga…” Tanganku mengatup bersamaan dengan lirik terakhir lagu itu.

Asap putih menerpa wajahku. Aku mengalihkan pandangan ke kue, mendapati lilin-lilin di atasnya sudah padam.

Happy birthday, Sayang,” aku mengambil pisau plastik dan mengiris kue dalam satu potongan besar. “Seandainya kamu ada di sini, pasti kita bisa menghabiskan kue ini sekarang. Tahu kan, aku ini sering ngirit kalau makan kue…” aku meraih potongan kue dan menggigitnya.

Tak ada respon.

“Jangan diam aja, dong, Say…” sesuatu mencekat tenggorokanku, membuat suaraku terdengar parau. “Jawab apa, gitu. Bisikan, sentuhan, tanda apapun yang bisa kamu kasih ke aku…” ucapku lirih sembari mengunyah kue.

Suasana tetap hening.

“Aku tahu kamu kangen aku. Sama, aku juga kangen banget sama kamu.” Tangisanku tak dapat tertahan lagi. “Makanya, hari ini aku datang ke sini… bukan hanya untuk ngerayain hari ultahmu, tapi juga… untuk ketemu sama kamu.” Masih sesenggukan, aku melahap sisa kue di tanganku.

“Kue ini spesial, loh. Ada bahan yang gak dimiliki kue lain. Berkat kue ini… nanti aku bisa ketemu kamu…”

Aku membungkukkan badan, menyandarkan kepalaku di atas marmer hitam yang membingkai tempat peristirahatan terakhir kekasihku.

“Tunggu aku, Sayang. Sebentar lagi, aku datang.”

#Challenge30HariSAPE_Hari8

Mereka Tak Cinta Kamu


“Sudah selesai?” Aku bertanya pada temanku yang sedang duduk bersimpuh di sudut musholla, mengatupkan kedua tangannya sembari membisikkan doa.

“Belum… tunggu sebentar, dong,” jawab temanku, nyaris selirih ucapan doanya, sebelum melanjutkan percakapannya dengan Yang Maha Kuasa.

Aku menghela napas panjang. Ini bukan pertama kalinya temanku itu berlarut-larut dalam renungannya di sudut musholla. Menyadari kehadiran orang-orang yang ingin salat di barisan ini, aku melangkah mundur dan duduk bersandar pada dinding musholla, menyibukkan diri sendiri dengan mengamati para jamaah yang berlalu lalang melintasi pintu masuk. Mereka hadir dengan gaya berbusana yang beragam, mulai dari kaos oblong dan celana denim hingga baju koko yang terinspirasi dari desain kostum Black Panther. Di bagian musholla yang dipenuhi oleh para perempuan, ada yang berseragam sekolah dan ada yang mengenakan khimar begitu panjang sampai mereka tak memerlukan mukena untuk melaksanakan salat.

Saat aku tengah terdistraksi oleh para jamaah, temanku menepukkan tangan, persis di depan wajahku. “Hei, jangan melamun! Nanti ada yang masuk, loh,” sahutnya.

Aku menepis tangannya. “Ngagetin aja,” ujarku bernada kesal. “Lagian salah kamu juga yang doanya lama banget!” lanjutku sembari bangkit dari tempat duduk.

“Wah wah wah, nyalahin orang berdoa… Memangnya kamu gak mau mendoakan orang tuamu agar selamat di dunia dan akhirat? Setelah segala yang mereka lakukan buat kamu…”

Aku tersentak. Temanku ini memang sok tahu. Apa yang dia ketahui tentang perlakuan orang tua kepadaku? Ingin rasanya aku memberikannya presentasi lengkap dengan beribu-ribu slide Power Point mengenai alasan mengapa aku tidak suka bercerita tentang orang tuaku. Dan mengapa aku enggan berlama-lama berdoa untuk mereka.

Tanpa sadar aku menarik lengan kemejaku, menyembunyikan rona hitam-keunguan dan bekas luka yang menodai pergelangan tanganku.

“Aku sudah berdoa… hanya saja, kelihatannya Tuhan masih enggan membalasnya.”

 

#Challenge30HariSAPE_Hari7

Lewat Jam Malam


Ini pertama kalinya aku balapan motor bersama makhluk astral.

Malam itu, aku mengikuti sebuah pemutaran film yang diselenggarakan oleh suatu organisasi kemahasiswaan. Aku begitu terlarut dalam jalan cerita film sampai tak menyadari bahwa malam semakin larut. Setelah film itu berakhir, aku melirik jam tanganku untuk memastikan bahwa aku belum melewati jam malam.

Jam tanganku menunjukkan pukul 22.49. Hampir 10 menit lagi, gerbang kosku akan dikunci! Tanpa berpamitan dengan teman-temanku, aku berlari meninggalkan ruangan menuju tempat parkir, di mana motorku telah menunggu, siap membawaku pulang.

Singkat cerita, aku menempuh perjalanan kembali ke kos melalui “jalur tikus” agar lebih cepat sampai. Aku melewati jalan-jalan kecil di tengah perumahan lawas dan tanah kosong. Berbeda dengan jalan utama, jalan ini sepi pengguna. Malam itu saja, di jalanan yang krisis penerangan ini hanya ada aku seorang diri. Setidaknya, sejauh mataku memandang, sepertinya hanya aku pengendara motor yang tengah melewati jalan tersebut saat itu…

Sampai satu kilometer kemudian, ketika sebuah motor melaju di belakangku.

Awalnya aku merasa lega, karena akhirnya ada kendaraan lain yang menemaniku melintasi jalan ini. Aku mempersilakan pengendara motor tersebut mendahuluiku sebagai tanda terima kasih. Lampu depan motorku menyorot punggung pengendara motor tersebut, menampilkan semburat hijau muda dan putihnya tulisan merek ojek online. Aku mengedip-kedipkan mata karena silau… dan mengutuk diriku sendiri tak lama setelahnya.

Di depanku, tepatnya di jok belakang motor di depanku, sesosok makhluk berbungkus putih kusam duduk dalam posisi menyamping. Awalnya, aku tak mempercayai bahwa apa yang kulihat itu merupakan makhluk astral. Aku pikir, mungkin itu seorang perempuan bermukena yang baru saja pulang dari salat Isya di masjid bersama suaminya. Sialnya, otakku mengingatkan bahwa salat Isya berjamaah telah selesai lebih dari 3 jam yang lalu. Sambil membaca-baca sekian banyak doa yang kutahu, aku mempercepat laju motor, berusaha untuk mendahului ojek “berpenumpang gelap” tersebut. Aku memfokuskan visi ke jalan agar tidak bertatap muka dengan… apapun yang menumpangi ojek online itu.

Setelah mengendarai motor dengan tangan berkeringat dingin, mulut yang komat-kamit menyebut nama-Nya, dan segenggam keberanian di dalam hati, akhirnya aku berhasil mendahului ojek online tersebut dengan lancar. Akan tetapi, konsentrasiku terpecahkan oleh suara yang begitu jelas terdengar di telingaku.

“Jangan lihat kaca spion,” sahut suara itu.

Secepat kilat, penglihatanku menghitam.

#Challenge30HariSAPE_Hari6

ditulis di tengah kelamnya malam
dengan suasana hati yang kian muram
karena kekalahan Minions,
teringat lima menit terakhir di Avengers: Infinity War,
dan tugas-tugas pengganti UAS yang kian menumpuk.

Buka Bareng: Salted Egg Chicken


Jika sebelumnya aku berbagi cerita fiksi singkat, tulisan kali ini berjenis ulasan makanan. Tujuannya ringkas saja, agar ganti suasana sekaligus berbagi rekomendasi kuliner buat yang ingin mencoba variasi menu buka puasa. Tahan laparnya dulu, ya!

Buka puasa dengan kurma dan teh hangat memang klasik. Untuk makan malamnya, biasanya aku beli nasi dan lauk di warung dekat kosan yang baru buka menjelang waktu berbuka puasa. Akan tetapi, lama kelamaan bosan juga kalau makannya itu-itu saja. Akhirnya, aku browsing di katalog Go-Food, mencari rekomendasi menu dan restoran yang bisa kupesan. Untuk santapan buka puasa hari ini, aku ingin mencoba ayam goreng saus telur asin yang sudah lama ngehits di Jakarta. Dari sekian banyak restoran, akhirnya aku menemukan satu yang spesialis ayam goreng saus telur asin! Nama restorannya Salt-Ing, letaknya kurang lebih 3 km dari kosanku.

Penampakan salted egg chicken ala Salt-Ing

Jadi… Aku baru aja menghabiskan satu kotak salted egg chicken plus nasi dari Salt-Ing. Lebih tepatnya, setelah melaksanakan salat Magrib. Ternyata… Salted egg chicken ini ENAK. BANGET. Saus telur asinnya benar-benar memanjakan lidah, guys. Berasa banget kombinasi antara kuning telur, susu, dan daun jeruk (mungkin ada bahan lain yang aku kurang tahu). Sausnya juga banyak loh, gak tanggung-tanggung masaknya. Gak cuma itu, ayam gorengnya pun cukup renyah walaupun gak serenyah ayam goreng crispy dari restoran cepat saji. Tambahkan telur ceplok sebagai pelengkap… jadilah makan malam yang simple tapi bergizi, asalkan masaknya gak pake micin, hehehehe.

Akhir kata, salted egg chicken ala Salt-Ing punya sensasi asin asin gurih yang bikin aku pengen banget memesan menu ini lagi. Lain kali aku mau coba minta ekstra sambal matah 🙄

Mau pesan juga? Bisa lewat Go-Food atau langsung ke lokasi restorannya di:

SALT-ING
Jl. Kenari No.4 (bawah Hotel Woodpecker Pavilion)
Demangan Baru, Yogyakarta, Caturtunggal, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281

#Challenge30HariSAPE_Hari5

Seleraku, Seleramu


Asap mengepul dari semangkuk mi instan di atas meja belajarku. Mi instan rasa ayam bawang, bercampur dengan bubuk cabai dan bawang goreng, siap mengganjal perutku untuk tiga belas jam ke depan. Tentunya ia tak sendirian, aku membawa sekotak kurma madinah untuk melengkapi santapanku dini hari ini. Sebelum menyantap keduanya, aku tak lupa menyeduh teh celup hangat untuk memuaskan dahagaku, sekaligus menghangatkan tubuhku yang menggigil kedinginan diterpa angin malam.

Mungkin kamu bertanya-tanya, mengapa aku hanya sahur dengan makanan sesederhana ini, bukannya mi instan termasuk makanan yang kurang sehat?

Kamu benar, aku tahu ini bukan makanan yang ideal untuk sahur. Akan tetapi, ingatkah kamu pada masa kecil, ketika kamu begitu senang saat dibelikan es krim? Saat kamu menghadiri pesta ulang tahun temanmu dan melahap ayam goreng krispi yang disajikan dalam kemasan warna-warni bergambar lucu? Bagaimana makanan yang katanya sampah itu menyenangkanmu seolah ia santapan para bangsawan?

Makanan ini hadiah untuk diriku sendiri, karena berhasil melewati empat hari berpuasa sendiri di tanah rantau.

Doakan ya, semoga kesepian ini cepat hilang.

 

#Challenge30HariSAPE_Hari 4

Senja di Suatu Kafe


Semburat lembayung menghiasi langit di kala senja, warna-warninya terlihat cantik dari jendela kafe tempatku mengerjakan tugas. Ini pertama kalinya aku mengerjakan tugas individu di luar kos, tepatnya di sebuah kafe yang terletak tak jauh dari kampusku. Kafe bernuansa vintage ini mulai ramai oleh pengunjung yang hendak berbuka puasa bersama. Menyadari deadline tugas yang semakin dekat, aku berusaha untuk tak menghiraukan keriuhan pengunjung dan fokus pada lembar kerja di laptopku.

Menit demi menit pun berlalu. Tak lama kemudian, aku mendengar azan Magrib berkumandang menandakan waktu berbuka puasa. Aku, yang tengah sibuk mengetikkan beberapa baris kalimat, segera menutup lembar kerja dan meraih secangkir teh hangat yang sedari tadi telah terhidangkan di dekat laptopku. Seusai membaca doa berbuka puasa, aku meneguk teh pelan-pelan, membiarkan manisnya madu dan kehangatan teh hijau membasahi kerongkonganku.

Setelah menghabiskan tiga butir kurma, aku membuka kembali lembar kerja tugasku guna menyelesaikannya. Baru saja mengetik sepatah kata, tiba-tiba seseorang menepuk pundakku. Aku berbalik dan mendapati seorang lelaki berbaju putih berdiri di belakangku.

“Mbak, sudah salat Magrib belum?” ucap lelaki itu.

Siapa dia? Kenapa tiba-tiba dia menghampiriku? Oke, mungkin ini peringatan bagiku untuk segera menunaikan kewajiban, tapi tetap aja… aku gak kenal kamu, Mas.

Aku merapikan kerudung, berupaya menyembunyikan ketidaknyamanan. “Belum. Nanti setelah ini selesai,” ucapku sembari menunjuk laptop.

“Magrib waktunya sebentar, loh. Kalau ditunda, nanti Mbak lupa,” jawabnya.

Iya juga ya…

“Oke,” aku beranjak dari kursi. “Di sini ada musholla gak?”

“Wah, sayangnya gak ada, Mbak. Kalau mau salat, Mbak bisa ke musholla di toko baju sebelah.”

Mengingatkan tanpa memfasilitasi, huh. Atau jangan-jangan…

“Mas pencuri, ya?” seruku bernada tajam, dengan tangan menutupi laptop. “Pasti kamu ingin ambil laptop saya ketika saya salat, ya kan?”

Lelaki itu terkesiap. “Demi Allah, bukan itu maksud saya!” sahutnya sembari mengatupkan kedua tangan. “Saya sendiri sepupu manajer kafe ini, saya cuma ingin menjaga barang Mbak ketika salat nanti,” lanjutnya.

Baiklah, kalau dia sudah bersumpah.

“Oke, tapi kalau sampai kamu bohong, saya gak akan segan memposting kejadian ini di media sosial agar banyak yang menghujat tindakan kamu,” ujarku tanpa mengalihkan pandangan dari lelaki itu.

Lelaki itu menganggukkan kepala. “Silakan, Mbak. Saya yakin bukan hujatan yang nanti saya dapatkan.”

Aku meraih tas dan meninggalkan kafe tersebut.

Setelah melaksanakan salat Magrib, aku bergegas meninggalkan musholla toko baju yang terletak beberapa blok dari kafe tadi. Aku mempercepat langkahku, was-was jika sumpah lelaki tersebut hanyalah omong kosong.

Sesampainya di depan kafe, tampak eksteriornya nyaris membuatku pingsan.

Kafe itu kosong. Gelap. Papan nama dan lampu neon yang menghiasinya raib. Seolah telah sekian lama tutup atau pindah lokasi.

Aku berlutut, tak mempercayai apa yang kulihat.

Namun, di tengah kekalutan dan kebingungan, seketika hidungku mencium aroma teh hijau. Aku beranjak bangkit dan melangkah mengikuti sumber aroma tersebut.

Di bawah kusen jendela, tepat di sisi lain tempatku mengerjakan tugas tadi, terdapat laptopku lengkap dengan tetikus dan tasnya.

 

#Challenge30HariSAPE_Hari3

Bangun, Sudah Subuh


Nenekku pernah mengatakan bahwa setiap rumah memiliki penghuni tak kasat mata. Begitu pula dengan rumah Nenek, yang telah berdiri sejak negara ini belum merdeka. Awalnya aku tidak percaya, sebab aku sendiri tidak pernah mengalami kejadian ganjil di rumah Nenek. Merasakan kehadiran “mereka” pun tidak pernah. Oleh karena itu, aku menganggap ucapan Nenek saat itu sebagai bualan belaka.

Namun, Nenek menyanggah opiniku. Beliau mengutarakan bahwa tidak semua penghuni tak kasat mata itu jahat seperti yang ada di film horor. Beberapa di antara mereka tergolong sosok yang baik.

“Sekarang Nenek mau tanya. Selama menginap di rumah Nenek, kamu pernah melewatkan salat Subuh gak?” tanya beliau sembari mengambil sekeping kue kastengel dari wadah di pangkuannya.

“Gak pernah, Nek.”

“Kok bisa?” tanya Nenek lagi sambil mengunyah kastengel. “Rumah ini jauh dari masjid, azan yang terdengar cuma dari TV. Kamu pakai alarm?”

“… gak juga, Nek. Aku bangun sendiri pas waktu Subuh.”

“Hmmm… yakin bangun sendiri?” gumam Nenek.

“Memangnya kenapa? Nenek yang sering bangunin aku?”

“Bukan Nenek, manis,” beliau tersenyum seraya melirik ke belakangku. “Tapi dia.”

 

#Challenge30HariSAPE_Hari2

Drama Indomie


Kriiiiiiing!

Alarm ponselku terbangun. Sementara itu, aku masih terbuai mimpi.

Tiga puluh menit kemudian…

Kriiiiiiing!

Alarm masih berseru nyaring, memecah keheningan malam pertama bulan suci Ramadhan. Kali ini, seruannya sanggup membangunkanku. Masih di ambang batas antara mimpi dan realitas, aku meraih ponsel yang terletak di atas kasur, lalu mematikan alarm sembari melirik penunjuk waktu di layar.

Sudah pukul 04.00. Aku tersentak. Setengah jam lagi azan Subuh! Tanpa memedulikan penampilanku yang acak-acakan, aku pun beranjak dari tempat tidur dan berlari ke dapur kos, begitu gesitnya seolah sedang dikejar setan. Memang, katanya di bulan ini setan sedang dibelenggu. Akan tetapi, aku yakin ada satu jenis setan yang imun akan belenggu Ramadhan: setan penyebab kesiangan!

Sesampainya di dapur, tiba-tiba terdengar seruan dari sampingku.

“Kesiangan? Tenang, kan ada aku…” ujar si pemilik suara dengan lembut, nyaris keibuan.

Aku menoleh ke kanan kiriku, mencari sumber suara itu. Tak ada orang selain aku di dapur. Bulu kudukku mulai berdiri.

“Jangan sama ibu-ibu bau bawang itu! Sahur sama aku aja, dijamin kamu akan melek sampai waktu Subuh berakhir!” sahut suara lain di dekatku berapi-api.

‘Ibu’ yang disebut pun mendengus kesal. “Diam kau, pendatang baru!” sahutnya.

Sumber suara lain menghardikku. “Haduh, kalau sahur jangan makan yang pedas-pedas, dong!” gerutunya, lelah dengan pertikaian kedua pemilik suara itu. “Mending kamu sama aku aja, udah lama kamu gak makan daging kan?” ujarnya kepadaku.

Butuh waktu dua detik hingga aku berhasil memproses apa yang sedang terjadi – atau lebih tepatnya, siapa yang sedang bertikai pada dini hari ini. Seulas senyum merekah di bibirku saat aku berjalan menghampiri meja dapur, tempat percakapan itu berlangsung.

“Oke,” ucapku seraya membuka laci meja. “Untuk sahur kali ini, aku ingin makan…” lanjutku sambil memindai isi laci tersebut.

Tiga bungkus mi instan terbaring di dalam laci, menunggu giliran untuk menjadi santapan para penghuni kos.

“Indomie,” ucapku seraya meraih bungkus mi instan berwarna kuning tersebut.

Terdengar seruan dari masjid terdekat, memberitahukan bahwa waktu Imsak telah tiba. Aku menutup kembali laci meja, tidak menghiraukan protes dari kedua mi instan di dalamnya.

“Terima kasih ya Allah, sudah mengaruniai manusia dengan kemampuan untuk meracik resep mi instan terlezat di dunia,” kataku sembari mempersiapkan panci dan piring. “Terima kasih juga untuk Indomie, yang mau menemaniku di kala sahur!”

#Challenge30HariSAPE_Hari1

closure

the worst is over now,
for we have left the past behind;
the future belongs to us
and fate is on our side.

if you want to stay,
i would be more than grateful to have you beside me,
now that we have all the time
in our bizarre little cube
to do whatever as you wish.
i’m relieved that all those years when i held onto my hope
that someday, you’re going to walk into the light once more
are definitely worth it in the end.

if your desire is to leave me,
live your own life,
and see the world beyond ours;
i won’t hold you back,
i’ve learned it the hard way that i couldn’t force everyone to stand by me for eternity.
however,
know that my doors are always open for you
when you decide to come home.

« Older posts Newer posts »

© 2018 s y n t h e s i s

Theme by Anders NorenUp ↑