s y n t h e s i s

words. feelings. random stuff.

Category: Horror flashfic

Semu


Dari: Aku yang gak pindahan rumah
Untuk: Kamu. Iya, kamu.
Pesan:

Kamu lagi apa sekarang?

Pasti sedang membaca pesan ini di layar ponsel atau komputermu.

Asal tahu saja, di mana pun kamu berada, ada kekuatan tak tampak yang mengawasimu.

Mungkin kamu berpikir perkataanku ini omong kosong.

Mungkin kamu berpikir bahwa Tuhan sedang mengawasimu.

Mungkin juga kamu berpikir bahwa pemerintah sedang mengawasimu.

Mungkin juga kamu berpikir bahwa penjaga keamanan sedang mengawasimu.

Mungkin juga kamu berpikir bahwa orang tua sedang mengawasimu.

Mungkin juga kamu berpikir bahwa makhluk astral sedang mengawasimu.

Dan berbagai kemungkinan lain, tanpa batas.

Sudahlah, aku tidak peduli kemungkinan mana yang lebih tepat. Aku mengirim pesan ini padamu karena apapun yang kamu percayai, aku tetap peduli dengan keselamatan dan masa depanmu.

Sudahkah kamu mengunci pintu rumah?

Bagaimana dengan jendela, apakah sudah terkunci aman?

Perhatikan kamera di laptopmu. Apakah sudah tertutup? Jangan lupa tutupi juga kamera ponselmu.

Cek riwayat penelusuran di browser milikmu. Adakah laman yang ganjil? Aku berharap kamu sudah menghapusnya dari daftar.

Mungkin kamu menganggap aku berlebihan. Akan tetapi, tenang saja, niatku tulus ingin membantu dirimu agar selamat. Ingatlah, bahaya bisa mengintaimu kapan saja. Kamu mungkin mengira bahwa kondisi aman, padahal kenyataannya tidak demikian. Pada era di mana hampir semua aktivitasmu dapat terdokumentasi secara mendetail, tidak ada salahnya untuk menghindari makhluk tak kasat mata yang seringkali mengganggu pengguna internet sepertimu.

Siapa makhluk yang tak kasat mata itu? Banyak. Kamu bisa simpulkan sendiri siapa saja. Yang jelas, mereka bisa mengenalimu tanpa benar-benar berjumpa denganmu. Mereka dapat membentuk citra diri mereka sesuai dengan seleramu. Mereka juga bisa membuat dirimu hanya haus akan kebenaranmu, enggan mencari kebenaran sesungguhnya.

 

#Challenge30HariSAPE_Hari19

Sisi Lain Dongeng Putri Salju


“Selamat pagi, Cerminku!” Ratu menyibak tirai emas yang menutupi cermin, membiarkan kaca setinggi 2 meter itu merefleksikan bayangan dirinya.

“Selamat Pagi, Yang Mulia. Hari yang cerah, bukan?” sapa si Cermin.

Ratu tersenyum kepada bayangan dirinya. “Secerah refleksi diriku yang kau pantulkan,” ujar Ratu sambil menguncir rambut ikalnya. “Ya, kan?”

“Omong-omong, kau terdengar riang, Yang Mulia. Apa gerangan yang membuat kau merasa bahagia?”

Ratu tertawa pelan, lalu mengambil sebotol alas bedak berwarna porselen dari meja rias. “Aku sudah berhasil menurunkan berat badanku, Cermin! Kini aku sudah semakin cantik seperti yang kau katakan,” Ratu mengaplikasikan alas bedak di atas pipinya, membiarkan pigmen persik itu menyembunyikan rona sawo matang wajahnya. “Sekarang, aku ingin tanya lagi. Cermin, cermin di dinding… siapakah wanita tercantik di dunia?”

Cermin bergumam sesaat. “Wahai Ratu, wanita tercantik di dunia saat ini ialah… Putri Salju.” Refleksi cermin menampilkan potret Putri Salju yang sedang tersenyum. Rambut hitam bak arang membingkai wajah tirusnya. Bulu mata lentik mempercantik kedua matanya. Pipi yang merona merah jambu dan bibir tebal semerah batu rubi melengkapi pesona gadis yang kulitnya nyaris seputih salju tersebut.

Senyum sang Ratu berubah kecut. “Masih dia?” Ratu nyaris menjatuhkan beauty blender di tangannya. “Apa lagi yang harus kuperbuat, Cerminku?”

“Sadarlah, Yang Mulia. Sampai kapan pun, kau tak akan pernah bisa lebih cantik dari Putri Salju.”

Ratu tercengang. “Mengapa? Tentu saja aku bisa! Aku sudah jadi lebih kurus sekarang,” ia berkacak pinggang, merapatkan gaun tidurnya yang semakin longgar seiring dengan turunnya berat badan Ratu. “Aku sudah menata rambutku. Aku sudah pakai krim pencerah wajah setiap malam. Alas bedakku pun sama warnanya dengan yang dipakai Putri Salju. Sekarang aku tinggal memakai lipstik merah, setelah itu kami akan tampak seperti saudara kembar,” Ratu meratakan alas bedak di wajahnya, lalu mengaplikasikan concealer yang setingkat lebih terang dari warna alas bedaknya.

Mendengar pengakuan pemiliknya, Cermin hanya tertawa terbahak-bahak.

Ratu mengernyitkan alisnya. “Apa yang lucu, Cermin?” ucapnya sembari menyapukan gincu merah marun pada bibirnya.

“Kebodohanmu, Yang Mulia,” Cermin menekankan intonasinya pada kata ‘mulia’ seolah itu hinaan. “Kau begitu terobsesi pada kecantikan Putri Salju, sampai kau lupa bahwa dirimu tetaplah jelek.”

Ratu menggigit bawah bibirnya. “Apa kau bilang-”

“Putri Salju tak memerlukan segala usaha yang kau lakukan untuk menjadi cantik, karena dia telah cantik sejak lahir,” pantulan Cermin terdistorsi, perlahan pantulan sang Ratu berubah menjadi siluet hitam tanpa mata dan hidung – hanya ada mulut yang bergerak menirukan ucapan Cermin. “Sedangkan kau? Kulitmu tidak putih seperti miliknya. Rambutmu tidak berombak seperti rambutnya. Pipimu tidak tirus seperti pipinya. Tubuhmu tidak langsing seperti tubuhnya. Sudah kukatakan, sampai kapan pun, kau akan selalu jelek di mata-”

“HENTIKAN!” Ratu melempar gincu ke pantulan Cermin, meretakkan sebagian kecil permukaannya. Namun, siluet hitam di dalamnya masih ada. Siluet itu menyeringai, menunjukkan taring-taringnya yang tajam.

“KAMU JELEK! KAMU JELEK! KAMU JELEK!”

Ratu semakin panik. Dia berlari mengelilingi kamarnya dengan gusar, kedua telinga ditutupi agar tak mendengar cemoohan Cermin. Lalu, dia mengambil sisir dan melemparnya ke Cermin sekeras mungkin. Retakan di permukaannya semakin lebar.

“TIDAK ADA PANGERAN YANG SUDI MELAMAR PEREMPUAN JELEK SEPERTIMU!”

“DIAM!!!” Ratu terpeleset ujung gaun dan terjerembab ke lantai. “Sial!” jerit Ratu diikuti tangisan.

Bukannya berhenti, seruan Cermin semakin menjadi-jadi.

Ratu meringkuk dalam ratapannya sembari menutup erat kedua telinganya. Meskipun tangannya menutupi kedua telinga, teriakan Cermin tetap terngiang di kepalanya, menembus pikirannya.

“TIDAK ADA PANGERAN YANG-”

“STOP!!!”

“SUDI MELAMAR-”

“STOP!!!”

“PEREMPUAN JELEK SEPERTIMU!!!”

Ratu memekik sampai tenggorokannya perih.

 

#Challenge30HariSAPE_Hari18

Schadenfreude


Teman sekamarku seorang psikopat. Tenang, dia bukan penjahat. Berhadapan dengan darah saja dia takut, apalagi menganiaya manusia. Meskipun seorang psikopat seringkali direpresentasikan dalam film sebagai sosok antagonis bengis haus darah, bukan berarti semua psikopat pasti seperti itu. Di dunia nyata, mereka tampak seperti orang pada umumnya. Begitu juga dengan teman sekamarku ini. Selama menghuni kos bersamanya, hubungan kami baik-baik saja. Aku sama sekali tidak mencurigai bahwa dia adalah seorang psikopat.

Sampai kejadian pada Minggu siang itu.

Kala itu, kami mengunjungi sebuah festival kuliner yang diadakan di sebuah mal dekat kos kami. Sesuai dengan namanya, berbagai jenis kuliner dapat kami temukan di festival ini, mulai dari kuliner lokal hingga kuliner asal mancanegara. Hawa panas dan asap kelabu menerpa kami ketika melewati vendor sate kelinci. Di area minuman, aroma semerbak biji kopi yang tengah digiling berbaur dengan aroma tajam es durian. Suasana auditorium yang sarat dengan pengunjung tidak menyurutkan niat kami untuk berburu santapan lezat. Tak apa makan dan minum sambil berdiri, yang penting puas.

Temanku berhenti di depan vendor es kepal milo. Alasannya, dia ingin mencoba makanan penutup yang sedang viral tersebut. Dia menawarkan untuk memesan satu porsi untukku, tapi aku menolak karena sedang flu. Akhirnya, aku berjalan ke vendor di sebelahnya. Vendor ini menyediakan tteokbbokki, jajanan asal Korea Selatan. Aku memesan satu porsi, lengkap dengan ekstra sambal.

Beberapa saat kemudian, pesananku pun jadi. Setelah membayar pesanan, aku menjumpai temanku dengan semangkuk tteokbbokki di genggaman. Kami kembali berjalan bersama, menikmati jajanan masing-masing. Saat berjalan, temanku bercerita mengenai kelakuan bos magangnya yang menyebalkan.

Tiba-tiba, glek! Aku tersedak.

Aku pun terbatuk-batuk, mangkuk tteokbbokki di genggamanku nyaris terjatuh. Langkahku pun terhenti. Namun, temanku terus melangkah dan melanjutkan ceritanya, seolah ia tidak mendengarku. Dilanda panik, aku tergesa-gesa mengejarnya, menyerukan namanya sekeras mungkin. Dia berbalik dan menghampiriku.

“Abis nyasar? Makanya, jalannya cepetan, dong!” sahutnya diiringi oleh tawa kecil.

Aku menunjuk-nunjuk leher, berharap dia paham maksudku.

“Kamu haus?” tanyanya.

Aku menggelengkan kepala, lalu berpura-pura mencekik diri sendiri. Masak dia gak peka? Sementara itu, tubuhku terasa semakin lemas. Aku mulai menangis. Help me, please!

Temanku justru tertawa terbahak-bahak. “Ya ampun, haus banget? Bilang, dong!” ujar temanku sebelum menengadahkan tangannya. “Mana duitmu, sini kubeliin!” lanjutnya, masih cekikikan.

Saat itu, aku berpikir… apakah ini akhir hidupku? Kalau benar, maka ini akhir yang lebih tragis dari ending film Avengers: Infinity War. Aku ditelantarkan oleh teman sendiri karena miskom dan ketidakpekaannya terhadap musibah. Rasanya seperti berada di sebuah film bersubgenre black comedy, yang hanya lucu jika audiens mampu menertawakan penderitaan karakternya.

Putus asa, aku melangkah mundur dan tanpa sengaja menabrak seseorang di belakangku.

“Astagfirullah!” ucap orang yang baru saja kutabrak. Suaranya terdengar berat, sepertinya dia lelaki.

Aku berbalik, bermaksud untuk meminta maaf. Seandainya tenggorokanku tidak tercekat, mungkin aku sudah melakukannya.

Lelaki itu rupanya jauh lebih peka dibandingkan temanku. Melihat aku memegang leher dengan wajah yang pucat pasi, dia langsung berinisiatif menolong. Dengan sigap, dia menepuk-nepuk punggungku hingga aku memuntahkan makanan yang membuat aku tersedak. Setelah menenangkan diri, aku berterima kasih kepadanya. Temanku juga turut berterima kasih, entah apa alasannya. Kemudian, kami berdua berjalan meninggalkan lelaki itu.

“Kamu kenapa gak nolongin aku tadi? Aku keselek, tahu!” sahutku dengan kesal.

“Ya maaf… tadi itu lucu banget, sumpah. Aku pikir kamu haus, kan kamu emang tukang drama!” lanjutnya diikuti dengan tawa. Lagi.

Aku memasang wajah poker face dan mengaduk-aduk isi mangkuk tteokbbokki yang entah mengapa tidak lagi menggugah selera.

Pikiranku seketika melayang ke momen-momen ketika tinggal sekamar dengan temanku. Ketika dia berkali-kali lupa menyiram tanaman di dekat jendela. Ketika dia memintaku untuk menjepret cicak dengan karet gelang karena suara decakan yang mengusik konsentrasi belajarnya. Ketika dia sama sekali tidak menghiburku setelah aku diputuskan pacar, maupun setelah kami menonton film yang berakhir tragis.

Hanya satu kata yang terlintas dalam pikiranku setelah itu, diikuti oleh satu kalimat.

Anjir.

(Baca kembali kalimat pertama cerita ini.)

 

 

#Challenge30HariSAPE_Hari17

#NadiaTidakTakut


(tw: domestic violence)

“Anjir… gagal lagi!” Seruan itu datang dari bawah pohon beringin tempatku beristirahat.

“Kenapa lo, Ci?” Aku melompat turun untuk menemui rekanku, Poci.

“Gue gagal nakutin anak orang lagi,” Poci menggerutu seraya bersandar pada batang pohon beringin, lalu menghela napas seolah-olah dia makhluk hidup.

“Lo kurang serem kali, Ci. Rumah yang mana, sih?”

“Itu loh,” Poci menarik-narik tangannya untuk menunjuk, namun gagal karena terikat dalam balutan kain kafan kusam. “Blok F, cat kuning, pagar hijau. Susah banget cuy, gue sampe nampakin diri berkali-kali tapi anaknya biasa aja. Pengen pensiun jadi hantu aja dah!”

“Halah… gitu aja udah nyerah. Gimana mau jadi hantu nomor satu se-ASEAN?”

“Lo bisa bilang gitu karena lo udah sering jadi nomor satu! Di-endorse sama film-film, lagi.”

“Ngeles aja bisanya lo. Sini, gue yang samperin aja,” aku mengikat rambut kusutku sebelum terbang menembus langit malam.

Sesampainya di rumah yang dimaksud, aku melayang menembus dinding kamar seorang anak perempuan – kamar anak yang gagal jadi korban ketengilan si Poci. Kemudian, aku bersembunyi di balik lemari pakaian. Dari celah pintunya, aku melihat sang penghuni kamar sedang berbaring di kasurnya, meringkuk di balik selimut. Sementara itu, lampu kamarnya padam. Tidak ada jimat atau penangkal bala sama sekali. Kamar itu juga bersih dari poster-poster selebriti luar negeri yang banyak digandrungi kids zaman now. Tak apa, lagipula aku sendiri tidak membutuhkan medium itu untuk menakuti manusia. Melihat interior kamar tersebut secara keseluruhan, seharusnya ini pekerjaan kelas teri. Aku bingung, di mana susahnya menakuti anak ini?

Aku sedang bersiap untuk mengeluarkan cekikikan khasku ketika gerendel pintu kamar diputar-putar dengan kencang.

“Nadia, buka pintunya!” terdengar sahutan seorang pria dari luar kamar diikuti dengan gedoran pintu bertubi-tubi.

Perempuan yang dipanggil namanya cepat-cepat berguling ke samping kasur dan mencengkeram selimutnya erat-erat. Isak tangis pelan terdengar dari mulutnya, diikuti dengan permohonan lirih kepada Yang Maha Kuasa.

“Buka pintunya atau Ayah dobrak!” seru ayah Nadia menggelegar, diikuti dengan hantaman keras terhadap pintu.

Tangis Nadia semakin menjadi-jadi. Di tengah kebisingan bunyi hantaman pintu, Nadia terus berucap, “Tolong jangan sakiti aku Yah jangan pukul aku jangandorongakutolongaku-”

Pintu kamar terbuka dengan kasar. Seorang pria separuh baya berbadan tegap memasuki kamar. Bau rokok menyeruak memenuhi ruangan. Tangan pria itu meraba-raba dinding, berusaha mencari saklar lampu kamar. Gagal menemukannya, dia meludah dan melangkah mendekati kasur.

“Udah gede masih suka nangis, malu-maluin Ayah saja kamu ini! Mana janjimu, katanya kamu gak mau nangis lagi di depan Ayah?”

Nadia bergerak menjauhi ayahnya. Separuh wajahnya tertutup selimut. Hanya isakan pelan yang terdengar dari mulutnya. Sementara itu, diam-diam aku melesat keluar lemari.

“Karena Nadia nakal lagi hari ini,” ayah Nadia melembutkan nada suaranya. “Kita tidur bareng lagi. Nanti Ayah maafin Nadia kalo Nadia mau tidur sama Ayah.”

“GAK MAU!” Nadia meraung.

“Durhaka, ya, kamu?” Ayah Nadia menarik paksa selimut yang dikenakan putrinya, lalu menjangkau pinggang Nadia dengan tangannya. “Kalau Nadia gak mau tidur di kamar Ayah, lebih baik Ayah yang menidur-”

Tangan dinginku mencengkeram pergelangan tangan pria brengsek itu sebelum ia mampu menyentuh Nadia. “Dia gak sendirian,” ucapku pada ayah Nadia sembari memelototinya.

“Bang-”

“Jangan sakiti dia lagi!” Aku melepas cengkramanku.

Pria itu jatuh pingsan setelah melihatku tanpa berkata apa-apa lagi. Kepalanya membentur tepi kasur saat ia terjatuh ke lantai.

“Siap- siapa di sana?” Nadia menoleh ke kanan-kirinya, lalu meraih selimutnya untuk menghangatkan dirinya yang menggigil.

Aku melayang keluar dari rumah Nadia, tak ingin menakuti anak malang itu lebih traumatis dari yang telah diperbuat oleh ayahnya.

#Challenge30HariSAPE_Hari16

Sendirian, Mbak?


“Sendirian, mbak?” Pria itu mengisap rokoknya, kemudian menghembuskan sekepul asap pada siswi SMP yang tengah melintasi trotoar tempatnya duduk.

Perempuan yang disapa pun terkesiap. Dia mempercepat langkahnya dan meninggalkan si perokok, tak menghiraukan asap rokok yang berbaur dengan seragam putih birunya.

Perokok itu mengalihkan pandangannya ke perempuan lain di ujung jalan yang tengah sibuk dengan ponsel di tangannya. “Pulang sama aku aja yuk, Mbak…”

Perempuan itu memasukkan ponselnya ke saku jaket, wajahnya terlihat kecut setelah mendengar “sapaan” si perokok. Dengan sigap, dia menarik tudung jaketnya dan pergi menyeberang jalan.

“Ih, sombong banget sih, Mbak…” gerutu si perokok sembari mengisap rokoknya untuk kesekian kali.

Si perokok terus mengomentari para pejalan kaki yang melintas di depannya, baik ibu muda bergamis sampai mahasiswa berbaju acak adul.

“Assalamualaikum, cantik…”

Sukses membuat perempuan yang baru saja ditegurnya menjawab salam, si perokok tersenyum simpul. Dia menghabiskan batangan rokok terakhirnya, lalu menginjak puntung rokok itu. Pria itu beranjak dari tempat duduknya dan berjalan pulang.

Melihat seorang pejalan kaki bertudung merah di depannya, si perokok kembali melancarkan aksinya.

“Mbaknya sendirian aja nih? Hehe…”

Pejalan kaki itu tak mengacuhkan gurauan si perokok.

“Eh, ini mbak apa mas ya? Kalo mas, kamu ganteng, deh…”

Orang yang disapa tetap terdiam, menyeberangi zebra cross dalam kesunyian.

Tak puas dengan absennya respon dari sasarannya, si perokok mendekatkan diri hingga dirinya hanya setengah meter dari punggung pejalan kaki itu.

“Mau sosis gak, manis?” Perokok itu menepuk pundak si pejalan kaki.

Pejalan kaki itu berbalik. Wajahnya hancur tak karuan, daging busuk yang terkoyak oleh puluhan belatung meriasi wajah yang tak dapat dikenali itu. Mata hitamnya menatap perokok itu tajam, seolah ia predator yang hendak menangkap mangsa.

“SETAAAAAN!!!!” teriak perokok itu seraya lari terbirit-birit meninggalkan si “pejalan kaki”.

Pejalan kaki itu tertawa terkikik-kikik. Setelah si perokok menghilang, dia melepas topengnya, dalam hati berterima kasih pada video tutorial pembuat topeng monster di YouTube.

Sejak kejadian itu, si perokok tak pernah muncul di trotoar itu lagi.

 

 

dedicated to all catcallers b*ngs*t

#Challenge30HariSAPE_Hari15

Lewat Jam Malam


Ini pertama kalinya aku balapan motor bersama makhluk astral.

Malam itu, aku mengikuti sebuah pemutaran film yang diselenggarakan oleh suatu organisasi kemahasiswaan. Aku begitu terlarut dalam jalan cerita film sampai tak menyadari bahwa malam semakin larut. Setelah film itu berakhir, aku melirik jam tanganku untuk memastikan bahwa aku belum melewati jam malam.

Jam tanganku menunjukkan pukul 22.49. Hampir 10 menit lagi, gerbang kosku akan dikunci! Tanpa berpamitan dengan teman-temanku, aku berlari meninggalkan ruangan menuju tempat parkir, di mana motorku telah menunggu, siap membawaku pulang.

Singkat cerita, aku menempuh perjalanan kembali ke kos melalui “jalur tikus” agar lebih cepat sampai. Aku melewati jalan-jalan kecil di tengah perumahan lawas dan tanah kosong. Berbeda dengan jalan utama, jalan ini sepi pengguna. Malam itu saja, di jalanan yang krisis penerangan ini hanya ada aku seorang diri. Setidaknya, sejauh mataku memandang, sepertinya hanya aku pengendara motor yang tengah melewati jalan tersebut saat itu…

Sampai satu kilometer kemudian, ketika sebuah motor melaju di belakangku.

Awalnya aku merasa lega, karena akhirnya ada kendaraan lain yang menemaniku melintasi jalan ini. Aku mempersilakan pengendara motor tersebut mendahuluiku sebagai tanda terima kasih. Lampu depan motorku menyorot punggung pengendara motor tersebut, menampilkan semburat hijau muda dan putihnya tulisan merek ojek online. Aku mengedip-kedipkan mata karena silau… dan mengutuk diriku sendiri tak lama setelahnya.

Di depanku, tepatnya di jok belakang motor di depanku, sesosok makhluk berbungkus putih kusam duduk dalam posisi menyamping. Awalnya, aku tak mempercayai bahwa apa yang kulihat itu merupakan makhluk astral. Aku pikir, mungkin itu seorang perempuan bermukena yang baru saja pulang dari salat Isya di masjid bersama suaminya. Sialnya, otakku mengingatkan bahwa salat Isya berjamaah telah selesai lebih dari 3 jam yang lalu. Sambil membaca-baca sekian banyak doa yang kutahu, aku mempercepat laju motor, berusaha untuk mendahului ojek “berpenumpang gelap” tersebut. Aku memfokuskan visi ke jalan agar tidak bertatap muka dengan… apapun yang menumpangi ojek online itu.

Setelah mengendarai motor dengan tangan berkeringat dingin, mulut yang komat-kamit menyebut nama-Nya, dan segenggam keberanian di dalam hati, akhirnya aku berhasil mendahului ojek online tersebut dengan lancar. Akan tetapi, konsentrasiku terpecahkan oleh suara yang begitu jelas terdengar di telingaku.

“Jangan lihat kaca spion,” sahut suara itu.

Secepat kilat, penglihatanku menghitam.

#Challenge30HariSAPE_Hari6

ditulis di tengah kelamnya malam
dengan suasana hati yang kian muram
karena kekalahan Minions,
teringat lima menit terakhir di Avengers: Infinity War,
dan tugas-tugas pengganti UAS yang kian menumpuk.

Senja di Suatu Kafe


Semburat lembayung menghiasi langit di kala senja, warna-warninya terlihat cantik dari jendela kafe tempatku mengerjakan tugas. Ini pertama kalinya aku mengerjakan tugas individu di luar kos, tepatnya di sebuah kafe yang terletak tak jauh dari kampusku. Kafe bernuansa vintage ini mulai ramai oleh pengunjung yang hendak berbuka puasa bersama. Menyadari deadline tugas yang semakin dekat, aku berusaha untuk tak menghiraukan keriuhan pengunjung dan fokus pada lembar kerja di laptopku.

Menit demi menit pun berlalu. Tak lama kemudian, aku mendengar azan Magrib berkumandang menandakan waktu berbuka puasa. Aku, yang tengah sibuk mengetikkan beberapa baris kalimat, segera menutup lembar kerja dan meraih secangkir teh hangat yang sedari tadi telah terhidangkan di dekat laptopku. Seusai membaca doa berbuka puasa, aku meneguk teh pelan-pelan, membiarkan manisnya madu dan kehangatan teh hijau membasahi kerongkonganku.

Setelah menghabiskan tiga butir kurma, aku membuka kembali lembar kerja tugasku guna menyelesaikannya. Baru saja mengetik sepatah kata, tiba-tiba seseorang menepuk pundakku. Aku berbalik dan mendapati seorang lelaki berbaju putih berdiri di belakangku.

“Mbak, sudah salat Magrib belum?” ucap lelaki itu.

Siapa dia? Kenapa tiba-tiba dia menghampiriku? Oke, mungkin ini peringatan bagiku untuk segera menunaikan kewajiban, tapi tetap aja… aku gak kenal kamu, Mas.

Aku merapikan kerudung, berupaya menyembunyikan ketidaknyamanan. “Belum. Nanti setelah ini selesai,” ucapku sembari menunjuk laptop.

“Magrib waktunya sebentar, loh. Kalau ditunda, nanti Mbak lupa,” jawabnya.

Iya juga ya…

“Oke,” aku beranjak dari kursi. “Di sini ada musholla gak?”

“Wah, sayangnya gak ada, Mbak. Kalau mau salat, Mbak bisa ke musholla di toko baju sebelah.”

Mengingatkan tanpa memfasilitasi, huh. Atau jangan-jangan…

“Mas pencuri, ya?” seruku bernada tajam, dengan tangan menutupi laptop. “Pasti kamu ingin ambil laptop saya ketika saya salat, ya kan?”

Lelaki itu terkesiap. “Demi Allah, bukan itu maksud saya!” sahutnya sembari mengatupkan kedua tangan. “Saya sendiri sepupu manajer kafe ini, saya cuma ingin menjaga barang Mbak ketika salat nanti,” lanjutnya.

Baiklah, kalau dia sudah bersumpah.

“Oke, tapi kalau sampai kamu bohong, saya gak akan segan memposting kejadian ini di media sosial agar banyak yang menghujat tindakan kamu,” ujarku tanpa mengalihkan pandangan dari lelaki itu.

Lelaki itu menganggukkan kepala. “Silakan, Mbak. Saya yakin bukan hujatan yang nanti saya dapatkan.”

Aku meraih tas dan meninggalkan kafe tersebut.

Setelah melaksanakan salat Magrib, aku bergegas meninggalkan musholla toko baju yang terletak beberapa blok dari kafe tadi. Aku mempercepat langkahku, was-was jika sumpah lelaki tersebut hanyalah omong kosong.

Sesampainya di depan kafe, tampak eksteriornya nyaris membuatku pingsan.

Kafe itu kosong. Gelap. Papan nama dan lampu neon yang menghiasinya raib. Seolah telah sekian lama tutup atau pindah lokasi.

Aku berlutut, tak mempercayai apa yang kulihat.

Namun, di tengah kekalutan dan kebingungan, seketika hidungku mencium aroma teh hijau. Aku beranjak bangkit dan melangkah mengikuti sumber aroma tersebut.

Di bawah kusen jendela, tepat di sisi lain tempatku mengerjakan tugas tadi, terdapat laptopku lengkap dengan tetikus dan tasnya.

 

#Challenge30HariSAPE_Hari3

Bangun, Sudah Subuh


Nenekku pernah mengatakan bahwa setiap rumah memiliki penghuni tak kasat mata. Begitu pula dengan rumah Nenek, yang telah berdiri sejak negara ini belum merdeka. Awalnya aku tidak percaya, sebab aku sendiri tidak pernah mengalami kejadian ganjil di rumah Nenek. Merasakan kehadiran “mereka” pun tidak pernah. Oleh karena itu, aku menganggap ucapan Nenek saat itu sebagai bualan belaka.

Namun, Nenek menyanggah opiniku. Beliau mengutarakan bahwa tidak semua penghuni tak kasat mata itu jahat seperti yang ada di film horor. Beberapa di antara mereka tergolong sosok yang baik.

“Sekarang Nenek mau tanya. Selama menginap di rumah Nenek, kamu pernah melewatkan salat Subuh gak?” tanya beliau sembari mengambil sekeping kue kastengel dari wadah di pangkuannya.

“Gak pernah, Nek.”

“Kok bisa?” tanya Nenek lagi sambil mengunyah kastengel. “Rumah ini jauh dari masjid, azan yang terdengar cuma dari TV. Kamu pakai alarm?”

“… gak juga, Nek. Aku bangun sendiri pas waktu Subuh.”

“Hmmm… yakin bangun sendiri?” gumam Nenek.

“Memangnya kenapa? Nenek yang sering bangunin aku?”

“Bukan Nenek, manis,” beliau tersenyum seraya melirik ke belakangku. “Tapi dia.”

 

#Challenge30HariSAPE_Hari2

© 2018 s y n t h e s i s

Theme by Anders NorenUp ↑