words. feelings. random stuff.

Month: June 2018

Obsidian (Part 1)


Hutan pinus itu merupakan tempat rekreasi favorit Amira. Semilir sejuk angin yang menyertai sajak burung-burung di atas pepohonan rindang biasanya mampu menenteramkan pikirannya. Namun, lain halnya dengan siang ini.

Amira terus berlari menghindari bebatuan dan semak belukar yang menghalangi jalannya. Sisi roknya terkoyak saat ia berbelok menghindari sebuah pohon pinus. Perempuan berambut keunguan itu tak menghiraukannya. Dia hanya berkonsentrasi pada rintangan di depannya, memutar otak guna mencari jalan keluar tercepat dari hutan tersebut. Hanya ada satu hal dalam pikiran gadis itu: tidak ada yang boleh mencuri batu obsidian di dalam ranselnya.

Di belakangnya, gerombolan penyamun mengejar Amira seraya bersahut-sahutan. Sumpah serapah meluncur dari mulut enam perampas harta yang terdiri dari pria dan wanita itu. Beberapa penyamun menyerukan nama artifak yang disembunyikan Amira di dalam ranselnya, seolah mereka berhak memiliki batu yang susah payah didapatkannya tersebut.

Deru langkah kaki para penyamun itu kian terdengar jelas di telinga Amira. Mereka sudah semakin dekat.

Semakin dekat.

Semakin dekat.

Amira tak mampu berlari lebih cepat lagi.

Saat salah satu penyamun hampir menjangkau ransel Amira, gadis itu membentuk segel di tangannya, memusatkan sisa kekuatan pada mantra pamungkasnya. Dalam sekejap, api menyembur keluar dari tanah, melebur baju pelindung besi dan senjata para penyamun, membakar mereka hidup-hidup sebelum mereka mampu memberikan perlawanan.

Amira berhenti dan menghempaskan diri ke tanah, lalu berbalik menghadap para penyamun yang tengah berguguran dilalap api. Erangan memilukan mereka memecah ketenangan hutan pinus, diikuti dengan bunyi kepakan sayap burung-burung yang menjauh dari upacara kremasi massal tersebut. Napas Amira yang menderu keras perlahan mulai stabil seiring dengan hembusan napas terakhir para lawannya. Perempuan itu menepis helai violet yang melekat di dahinya karena keringat, kemudian menyeka keringat dari wajah kuning langsatnya.

Mungkin perasaan ini absurd bagi sebagian orang. Mengerikan, bisa jadi. Akan tetapi, bukannya tidak ada yang salah dengan merasakan kelegaan dari kesengsaraan orang lain jika orang itu telah berupaya merampas sesuatu yang berharga bagimu? Itulah yang diyakini oleh Amira saat dirinya bangkit dan meninggalkan jasad para penyamun – kalau segunung baju pelindung gosong yang nyaris tak berbentuk dapat disebut sebagai “jasad”. Amira mengencangkan tali ranselnya, seolah tindakan itu dapat memberikan proteksi tambahan pada batu obsidian di dalamnya.

Sebenarnya, Amira masih punya waktu dua minggu untuk menyerahkan batu itu pada mentornya sebagai syarat untuk naik ke level 20. Namun, bergerak lebih cepat lebih baik daripada menunda-nunda pekerjaan. Terlebih, jika dia sudah mencapai level tersebut, akan lebih banyak tawaran pekerjaan dan imbalan yang didapatkannya. Kehidupan penyihir muda itu di dunia ini pun akan semakin sejahtera.

Amira mencoba menggunakan mantra teleportasi. Namun, upaya itu sia-sia. Mantra pembakar yang dia lepaskan tadi benar-benar menguras kekuatannya. Amira menghela napas dan berjalan menyusuri hutan, mencari tempat yang cukup nyaman untuk beristirahat sejenak guna memulihkan tenaganya.

Tanpa sengaja, kaki Amira terantuk sesuatu.

“Whoa!” pekik Amira seraya berpegangan pada batang pinus, menjaga keseimbangan agar tidak jatuh terjerembab.

Amira menunduk untuk melihat benda apa yang nyaris membuatnya terjatuh. Tak jauh dari sepatunya, sebuah hulu pedang telah terlepas dari tancapannya di tanah. Hulu itu masih tersambung dengan belati pedang, namun belatinya telah patah. Sebagian dari pedang yang rusak itu tertutupi jelaga dan tanah, sebagian lainnya berkilau keperakan memantulkan cahaya matahari. Serpihan belatinya tersebar di sekitar hulu pedang itu, disertai dengan bercak-bercak merah di atas rerumputan hijau.

Jantung Amira berdebar-debar seketika. Pandangan gadis itu pun mengikuti arah bercak-bercak merah tersebut untuk menemukan sumbernya.

Di bawah naungan pohon pinus, seorang pemuda dengan baju pelindung tipis tergeletak bermandikan darah, tak sadarkan diri.

 

#Challenge30HariSAPE_Hari24

Semu


Dari: Aku yang gak pindahan rumah
Untuk: Kamu. Iya, kamu.
Pesan:

Kamu lagi apa sekarang?

Pasti sedang membaca pesan ini di layar ponsel atau komputermu.

Asal tahu saja, di mana pun kamu berada, ada kekuatan tak tampak yang mengawasimu.

Mungkin kamu berpikir perkataanku ini omong kosong.

Mungkin kamu berpikir bahwa Tuhan sedang mengawasimu.

Mungkin juga kamu berpikir bahwa pemerintah sedang mengawasimu.

Mungkin juga kamu berpikir bahwa penjaga keamanan sedang mengawasimu.

Mungkin juga kamu berpikir bahwa orang tua sedang mengawasimu.

Mungkin juga kamu berpikir bahwa makhluk astral sedang mengawasimu.

Dan berbagai kemungkinan lain, tanpa batas.

Sudahlah, aku tidak peduli kemungkinan mana yang lebih tepat. Aku mengirim pesan ini padamu karena apapun yang kamu percayai, aku tetap peduli dengan keselamatan dan masa depanmu.

Sudahkah kamu mengunci pintu rumah?

Bagaimana dengan jendela, apakah sudah terkunci aman?

Perhatikan kamera di laptopmu. Apakah sudah tertutup? Jangan lupa tutupi juga kamera ponselmu.

Cek riwayat penelusuran di browser milikmu. Adakah laman yang ganjil? Aku berharap kamu sudah menghapusnya dari daftar.

Mungkin kamu menganggap aku berlebihan. Akan tetapi, tenang saja, niatku tulus ingin membantu dirimu agar selamat. Ingatlah, bahaya bisa mengintaimu kapan saja. Kamu mungkin mengira bahwa kondisi aman, padahal kenyataannya tidak demikian. Pada era di mana hampir semua aktivitasmu dapat terdokumentasi secara mendetail, tidak ada salahnya untuk menghindari makhluk tak kasat mata yang seringkali mengganggu pengguna internet sepertimu.

Siapa makhluk yang tak kasat mata itu? Banyak. Kamu bisa simpulkan sendiri siapa saja. Yang jelas, mereka bisa mengenalimu tanpa benar-benar berjumpa denganmu. Mereka dapat membentuk citra diri mereka sesuai dengan seleramu. Mereka juga bisa membuat dirimu hanya haus akan kebenaranmu, enggan mencari kebenaran sesungguhnya.

 

#Challenge30HariSAPE_Hari19

Sisi Lain Dongeng Putri Salju


“Selamat pagi, Cerminku!” Ratu menyibak tirai emas yang menutupi cermin, membiarkan kaca setinggi 2 meter itu merefleksikan bayangan dirinya.

“Selamat Pagi, Yang Mulia. Hari yang cerah, bukan?” sapa si Cermin.

Ratu tersenyum kepada bayangan dirinya. “Secerah refleksi diriku yang kau pantulkan,” ujar Ratu sambil menguncir rambut ikalnya. “Ya, kan?”

“Omong-omong, kau terdengar riang, Yang Mulia. Apa gerangan yang membuat kau merasa bahagia?”

Ratu tertawa pelan, lalu mengambil sebotol alas bedak berwarna porselen dari meja rias. “Aku sudah berhasil menurunkan berat badanku, Cermin! Kini aku sudah semakin cantik seperti yang kau katakan,” Ratu mengaplikasikan alas bedak di atas pipinya, membiarkan pigmen persik itu menyembunyikan rona sawo matang wajahnya. “Sekarang, aku ingin tanya lagi. Cermin, cermin di dinding… siapakah wanita tercantik di dunia?”

Cermin bergumam sesaat. “Wahai Ratu, wanita tercantik di dunia saat ini ialah… Putri Salju.” Refleksi cermin menampilkan potret Putri Salju yang sedang tersenyum. Rambut hitam bak arang membingkai wajah tirusnya. Bulu mata lentik mempercantik kedua matanya. Pipi yang merona merah jambu dan bibir tebal semerah batu rubi melengkapi pesona gadis yang kulitnya nyaris seputih salju tersebut.

Senyum sang Ratu berubah kecut. “Masih dia?” Ratu nyaris menjatuhkan beauty blender di tangannya. “Apa lagi yang harus kuperbuat, Cerminku?”

“Sadarlah, Yang Mulia. Sampai kapan pun, kau tak akan pernah bisa lebih cantik dari Putri Salju.”

Ratu tercengang. “Mengapa? Tentu saja aku bisa! Aku sudah jadi lebih kurus sekarang,” ia berkacak pinggang, merapatkan gaun tidurnya yang semakin longgar seiring dengan turunnya berat badan Ratu. “Aku sudah menata rambutku. Aku sudah pakai krim pencerah wajah setiap malam. Alas bedakku pun sama warnanya dengan yang dipakai Putri Salju. Sekarang aku tinggal memakai lipstik merah, setelah itu kami akan tampak seperti saudara kembar,” Ratu meratakan alas bedak di wajahnya, lalu mengaplikasikan concealer yang setingkat lebih terang dari warna alas bedaknya.

Mendengar pengakuan pemiliknya, Cermin hanya tertawa terbahak-bahak.

Ratu mengernyitkan alisnya. “Apa yang lucu, Cermin?” ucapnya sembari menyapukan gincu merah marun pada bibirnya.

“Kebodohanmu, Yang Mulia,” Cermin menekankan intonasinya pada kata ‘mulia’ seolah itu hinaan. “Kau begitu terobsesi pada kecantikan Putri Salju, sampai kau lupa bahwa dirimu tetaplah jelek.”

Ratu menggigit bawah bibirnya. “Apa kau bilang-”

“Putri Salju tak memerlukan segala usaha yang kau lakukan untuk menjadi cantik, karena dia telah cantik sejak lahir,” pantulan Cermin terdistorsi, perlahan pantulan sang Ratu berubah menjadi siluet hitam tanpa mata dan hidung – hanya ada mulut yang bergerak menirukan ucapan Cermin. “Sedangkan kau? Kulitmu tidak putih seperti miliknya. Rambutmu tidak berombak seperti rambutnya. Pipimu tidak tirus seperti pipinya. Tubuhmu tidak langsing seperti tubuhnya. Sudah kukatakan, sampai kapan pun, kau akan selalu jelek di mata-”

“HENTIKAN!” Ratu melempar gincu ke pantulan Cermin, meretakkan sebagian kecil permukaannya. Namun, siluet hitam di dalamnya masih ada. Siluet itu menyeringai, menunjukkan taring-taringnya yang tajam.

“KAMU JELEK! KAMU JELEK! KAMU JELEK!”

Ratu semakin panik. Dia berlari mengelilingi kamarnya dengan gusar, kedua telinga ditutupi agar tak mendengar cemoohan Cermin. Lalu, dia mengambil sisir dan melemparnya ke Cermin sekeras mungkin. Retakan di permukaannya semakin lebar.

“TIDAK ADA PANGERAN YANG SUDI MELAMAR PEREMPUAN JELEK SEPERTIMU!”

“DIAM!!!” Ratu terpeleset ujung gaun dan terjerembab ke lantai. “Sial!” jerit Ratu diikuti tangisan.

Bukannya berhenti, seruan Cermin semakin menjadi-jadi.

Ratu meringkuk dalam ratapannya sembari menutup erat kedua telinganya. Meskipun tangannya menutupi kedua telinga, teriakan Cermin tetap terngiang di kepalanya, menembus pikirannya.

“TIDAK ADA PANGERAN YANG-”

“STOP!!!”

“SUDI MELAMAR-”

“STOP!!!”

“PEREMPUAN JELEK SEPERTIMU!!!”

Ratu memekik sampai tenggorokannya perih.

 

#Challenge30HariSAPE_Hari18

Schadenfreude


Teman sekamarku seorang psikopat. Tenang, dia bukan penjahat. Berhadapan dengan darah saja dia takut, apalagi menganiaya manusia. Meskipun seorang psikopat seringkali direpresentasikan dalam film sebagai sosok antagonis bengis haus darah, bukan berarti semua psikopat pasti seperti itu. Di dunia nyata, mereka tampak seperti orang pada umumnya. Begitu juga dengan teman sekamarku ini. Selama menghuni kos bersamanya, hubungan kami baik-baik saja. Aku sama sekali tidak mencurigai bahwa dia adalah seorang psikopat.

Sampai kejadian pada Minggu siang itu.

Kala itu, kami mengunjungi sebuah festival kuliner yang diadakan di sebuah mal dekat kos kami. Sesuai dengan namanya, berbagai jenis kuliner dapat kami temukan di festival ini, mulai dari kuliner lokal hingga kuliner asal mancanegara. Hawa panas dan asap kelabu menerpa kami ketika melewati vendor sate kelinci. Di area minuman, aroma semerbak biji kopi yang tengah digiling berbaur dengan aroma tajam es durian. Suasana auditorium yang sarat dengan pengunjung tidak menyurutkan niat kami untuk berburu santapan lezat. Tak apa makan dan minum sambil berdiri, yang penting puas.

Temanku berhenti di depan vendor es kepal milo. Alasannya, dia ingin mencoba makanan penutup yang sedang viral tersebut. Dia menawarkan untuk memesan satu porsi untukku, tapi aku menolak karena sedang flu. Akhirnya, aku berjalan ke vendor di sebelahnya. Vendor ini menyediakan tteokbbokki, jajanan asal Korea Selatan. Aku memesan satu porsi, lengkap dengan ekstra sambal.

Beberapa saat kemudian, pesananku pun jadi. Setelah membayar pesanan, aku menjumpai temanku dengan semangkuk tteokbbokki di genggaman. Kami kembali berjalan bersama, menikmati jajanan masing-masing. Saat berjalan, temanku bercerita mengenai kelakuan bos magangnya yang menyebalkan.

Tiba-tiba, glek! Aku tersedak.

Aku pun terbatuk-batuk, mangkuk tteokbbokki di genggamanku nyaris terjatuh. Langkahku pun terhenti. Namun, temanku terus melangkah dan melanjutkan ceritanya, seolah ia tidak mendengarku. Dilanda panik, aku tergesa-gesa mengejarnya, menyerukan namanya sekeras mungkin. Dia berbalik dan menghampiriku.

“Abis nyasar? Makanya, jalannya cepetan, dong!” sahutnya diiringi oleh tawa kecil.

Aku menunjuk-nunjuk leher, berharap dia paham maksudku.

“Kamu haus?” tanyanya.

Aku menggelengkan kepala, lalu berpura-pura mencekik diri sendiri. Masak dia gak peka? Sementara itu, tubuhku terasa semakin lemas. Aku mulai menangis. Help me, please!

Temanku justru tertawa terbahak-bahak. “Ya ampun, haus banget? Bilang, dong!” ujar temanku sebelum menengadahkan tangannya. “Mana duitmu, sini kubeliin!” lanjutnya, masih cekikikan.

Saat itu, aku berpikir… apakah ini akhir hidupku? Kalau benar, maka ini akhir yang lebih tragis dari ending film Avengers: Infinity War. Aku ditelantarkan oleh teman sendiri karena miskom dan ketidakpekaannya terhadap musibah. Rasanya seperti berada di sebuah film bersubgenre black comedy, yang hanya lucu jika audiens mampu menertawakan penderitaan karakternya.

Putus asa, aku melangkah mundur dan tanpa sengaja menabrak seseorang di belakangku.

“Astagfirullah!” ucap orang yang baru saja kutabrak. Suaranya terdengar berat, sepertinya dia lelaki.

Aku berbalik, bermaksud untuk meminta maaf. Seandainya tenggorokanku tidak tercekat, mungkin aku sudah melakukannya.

Lelaki itu rupanya jauh lebih peka dibandingkan temanku. Melihat aku memegang leher dengan wajah yang pucat pasi, dia langsung berinisiatif menolong. Dengan sigap, dia menepuk-nepuk punggungku hingga aku memuntahkan makanan yang membuat aku tersedak. Setelah menenangkan diri, aku berterima kasih kepadanya. Temanku juga turut berterima kasih, entah apa alasannya. Kemudian, kami berdua berjalan meninggalkan lelaki itu.

“Kamu kenapa gak nolongin aku tadi? Aku keselek, tahu!” sahutku dengan kesal.

“Ya maaf… tadi itu lucu banget, sumpah. Aku pikir kamu haus, kan kamu emang tukang drama!” lanjutnya diikuti dengan tawa. Lagi.

Aku memasang wajah poker face dan mengaduk-aduk isi mangkuk tteokbbokki yang entah mengapa tidak lagi menggugah selera.

Pikiranku seketika melayang ke momen-momen ketika tinggal sekamar dengan temanku. Ketika dia berkali-kali lupa menyiram tanaman di dekat jendela. Ketika dia memintaku untuk menjepret cicak dengan karet gelang karena suara decakan yang mengusik konsentrasi belajarnya. Ketika dia sama sekali tidak menghiburku setelah aku diputuskan pacar, maupun setelah kami menonton film yang berakhir tragis.

Hanya satu kata yang terlintas dalam pikiranku setelah itu, diikuti oleh satu kalimat.

Anjir.

(Baca kembali kalimat pertama cerita ini.)

 

 

#Challenge30HariSAPE_Hari17

#NadiaTidakTakut


(tw: domestic violence)

“Anjir… gagal lagi!” Seruan itu datang dari bawah pohon beringin tempatku beristirahat.

“Kenapa lo, Ci?” Aku melompat turun untuk menemui rekanku, Poci.

“Gue gagal nakutin anak orang lagi,” Poci menggerutu seraya bersandar pada batang pohon beringin, lalu menghela napas seolah-olah dia makhluk hidup.

“Lo kurang serem kali, Ci. Rumah yang mana, sih?”

“Itu loh,” Poci menarik-narik tangannya untuk menunjuk, namun gagal karena terikat dalam balutan kain kafan kusam. “Blok F, cat kuning, pagar hijau. Susah banget cuy, gue sampe nampakin diri berkali-kali tapi anaknya biasa aja. Pengen pensiun jadi hantu aja dah!”

“Halah… gitu aja udah nyerah. Gimana mau jadi hantu nomor satu se-ASEAN?”

“Lo bisa bilang gitu karena lo udah sering jadi nomor satu! Di-endorse sama film-film, lagi.”

“Ngeles aja bisanya lo. Sini, gue yang samperin aja,” aku mengikat rambut kusutku sebelum terbang menembus langit malam.

Sesampainya di rumah yang dimaksud, aku melayang menembus dinding kamar seorang anak perempuan – kamar anak yang gagal jadi korban ketengilan si Poci. Kemudian, aku bersembunyi di balik lemari pakaian. Dari celah pintunya, aku melihat sang penghuni kamar sedang berbaring di kasurnya, meringkuk di balik selimut. Sementara itu, lampu kamarnya padam. Tidak ada jimat atau penangkal bala sama sekali. Kamar itu juga bersih dari poster-poster selebriti luar negeri yang banyak digandrungi kids zaman now. Tak apa, lagipula aku sendiri tidak membutuhkan medium itu untuk menakuti manusia. Melihat interior kamar tersebut secara keseluruhan, seharusnya ini pekerjaan kelas teri. Aku bingung, di mana susahnya menakuti anak ini?

Aku sedang bersiap untuk mengeluarkan cekikikan khasku ketika gerendel pintu kamar diputar-putar dengan kencang.

“Nadia, buka pintunya!” terdengar sahutan seorang pria dari luar kamar diikuti dengan gedoran pintu bertubi-tubi.

Perempuan yang dipanggil namanya cepat-cepat berguling ke samping kasur dan mencengkeram selimutnya erat-erat. Isak tangis pelan terdengar dari mulutnya, diikuti dengan permohonan lirih kepada Yang Maha Kuasa.

“Buka pintunya atau Ayah dobrak!” seru ayah Nadia menggelegar, diikuti dengan hantaman keras terhadap pintu.

Tangis Nadia semakin menjadi-jadi. Di tengah kebisingan bunyi hantaman pintu, Nadia terus berucap, “Tolong jangan sakiti aku Yah jangan pukul aku jangandorongakutolongaku-”

Pintu kamar terbuka dengan kasar. Seorang pria separuh baya berbadan tegap memasuki kamar. Bau rokok menyeruak memenuhi ruangan. Tangan pria itu meraba-raba dinding, berusaha mencari saklar lampu kamar. Gagal menemukannya, dia meludah dan melangkah mendekati kasur.

“Udah gede masih suka nangis, malu-maluin Ayah saja kamu ini! Mana janjimu, katanya kamu gak mau nangis lagi di depan Ayah?”

Nadia bergerak menjauhi ayahnya. Separuh wajahnya tertutup selimut. Hanya isakan pelan yang terdengar dari mulutnya. Sementara itu, diam-diam aku melesat keluar lemari.

“Karena Nadia nakal lagi hari ini,” ayah Nadia melembutkan nada suaranya. “Kita tidur bareng lagi. Nanti Ayah maafin Nadia kalo Nadia mau tidur sama Ayah.”

“GAK MAU!” Nadia meraung.

“Durhaka, ya, kamu?” Ayah Nadia menarik paksa selimut yang dikenakan putrinya, lalu menjangkau pinggang Nadia dengan tangannya. “Kalau Nadia gak mau tidur di kamar Ayah, lebih baik Ayah yang menidur-”

Tangan dinginku mencengkeram pergelangan tangan pria brengsek itu sebelum ia mampu menyentuh Nadia. “Dia gak sendirian,” ucapku pada ayah Nadia sembari memelototinya.

“Bang-”

“Jangan sakiti dia lagi!” Aku melepas cengkramanku.

Pria itu jatuh pingsan setelah melihatku tanpa berkata apa-apa lagi. Kepalanya membentur tepi kasur saat ia terjatuh ke lantai.

“Siap- siapa di sana?” Nadia menoleh ke kanan-kirinya, lalu meraih selimutnya untuk menghangatkan dirinya yang menggigil.

Aku melayang keluar dari rumah Nadia, tak ingin menakuti anak malang itu lebih traumatis dari yang telah diperbuat oleh ayahnya.

#Challenge30HariSAPE_Hari16

© 2024 s y n t h e s i s

Theme by Anders NorenUp ↑